Selasa, 10 Juli 2007

Geti Wijen

Siang ini di kantor sedang tidak sibuk. Perut sedikit berbunyi kukuruyuk seperti ayam jago di pagi hari, meskipun sudah makan siang 2 jam yang lalu. Cek e-mail tidak ada pesan baru. Lihat di meja masih ada beberapa geti wijen. Daripada perut lapar, mendingan makan jajanan ini. Tidak membikin kenyang sih, tetapi cukup buat ganjal perut dan senam mulut dan rahang.

Geti wijen ini adalah jajanan khas Blitar. Kebetulan asal kelahiranku disana dan jika mudik hampir selalu membawa geti wijen sebagai oleh-oleh. Dibuat dari biji wijen yang digoreng dengan pasir (tidak pakai minyak), ditambah biji kacang tanah yang juga digoreng dengan pasir. Bahan ini dicampur dengan gula kelapa yang dicairkan terlebih dahulu mirip gulali. Setelah wijen dan kacang tanah tercampur gula kelapa menjadi satu adonan, kemudian ditempatkan dalam satu meja kayu cetakan sedalam 1,5 cm untuk dipadatkan sampai agak keras kemudian diiris kecil-kecil berukuran 2 cm x 5 cm. Potongan-potongan inilah yang kemudian dibungkus plastik lalu dujual ke konsumen. Hasil terbaik jika biji wijennya didapat bukan hasil gilingan mesin, melainkan ditumbuk dengan tangan, karena jika dengan mesin rasa gurihnya sudah berkurang dan berbau apek. Juga gula kelapa yang berwarna kuning kemerahan lebih bagus daripada yang berwarna merah kecoklatan.

Merupakan produk industri rumah tangga, sehingga rasa bisa sedikit berbeda antara produsen satu dengan lainnya. Harganya cukup murah dan biasanya tahan 2-3 bulan. Sering dipakai sebagai oleh-oleh untuk saudara atau teman di luar kota/pulau dan juga sebagai jajanan saat lebaran dan natalan. Sekarang sudah banyak dijumpai di toko/supermarket.

Foto :

1 komentar:

om_khoper mengatakan...

Waduh....Mas Bet kok jadi kangen nih....ama geti wijennya. "Wes suwi ora tahu mangan". Waduh klo pas pulang ke Bogangin sering bawak ya? Bagi Dong..........
mas-yayak